Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) gelar Refleksi Akhir Tahun 2016

WartaJakarta.com-Jakarta
Saat ini Indonesia menempati posisi 3 besar dunia dalam rangking ekspor ikan hias dengan potensi perdagangan ikan hias Indonesia mencapai US$65 juta,negara pengekspor terbesar di dunia saat ini adalah Singapura.Tujuan utama ekspor ikan hias Indonesia adalah Amerika Serikat,Jepang,Hongkong,Australia dan Inggiris.oleh karena itu
Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) melalui Sekretaris Jenderalnya, Soeyatno memberikan keterangan persnya mengenai perkembangan pembudidayaan Koral, Kerang maupun Ikan Hias saat kemarin melalui kegiatan Reflekai Akhir Tahun 2016.

“DIHI sudah dibentuk beberapa tahun lalu, dengan harapan dapat memenuhi aspirasi yang khusus dalam tatanan kebijakan, sehingga tidak ada cabang dimana-mana. Dalam 2016 ini, pihaknya terus mengembangkan bagaimana untuk terus baik, yang memang saat ini sedang terseok-seok.

“Sempat memang terjadi di Bekasi dimana dari luar negeri dapat membeli ikan hias secara besar-besaran, yang dapat diakui memang harganya lumayan tinggi. Namun setelah komunikasi dengan pihak KKP dan Kementerian Perdagangan belum bisa menangani masalah itu,: ujarnya,Jumat (30/12) 2016 di Alam Sutera Tangerang.

Menyikapi mengenai adanya tenaga kerja asing yang ikut mengekspor Koral, Kerang maupun Ikan Hias, DIHI tetap ingin menyempurnakan peraturan untuk tenaga kerja asing (TKA), agar dapat mempersempit ruang gerak TKA untuk mendapatkan surat dalam rangka mengekspor ikan hias.

Saat ini Kemendag masih mempunyai masalah yang belum terselesaikan dalam rangka menyikapi masalah ekspor tersebut. Karenanya, untuk pengembangan usaha ikan hias, dari pedagang kecil, pihak DIHI terus membantu memperlancar perdagangan usaha ikan hias.

Sementara mengenai untuk karang hias yang pernah terjadi penjualan secara illegal, saat ini sudah agak dikurangi geraknya. “Karang hias itu seperti ikan hias yang bisa diberdayakan untuk dipanen. Cara pemanenannya tidak boleh lebih dari jumlah lebih populasi jarang hias itu sendiri,” ujar Suharsono.

Direktur KKP, Suseno mengatakan dari 28 peraturan yang dikeluarkan pemerintah, sekitar 30% kebijakan berada di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Jadi untuk para WNA yang berusaha di Indonesia, seperti pengusaha ekspor ikan hias harus illegal dan harapannya untuk peraturan yang 70% yang kebijakannya diluar KKP dapat lebih disederhanakan,” harapnya.

Lebih lanjut katanya, sensus Pertanian oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013 melaporkam ikan hias sebagai sumber pendapatan rumah tangga tertinggi diatas semua jenis usaha dibidang pertanian dengan nilai sekitar Rp 50 juta pertahun dibanding jenis usaha pertanian lainnya.

Dalam beberapa tahun terakhir ada beberapa perubahan, terhitung dari 2013 hingga 2015.

Di Indonesia, hanya baru ada perusahaan maskapai Garuda yang mau mengangkut ekspor ikan laut keluar negeri.

DIHI berharap agar usaha ikan hias perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak termasuk dari pihak maskapai penerbangan. Karena usaha ikan hias sangat berpotensi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat akar rumput.

Ditempat yang sama, salah seorang pembudidaya ikan hias dari Bekasi, Bambang, saat ini harga cenderung turun bagi usaha ikan hias setingkat usaha mikro. “Bagi pelaku usaha mikro kecil budidaya ikan hias ingin menaikkan omset dari sisi bisnis itu layak. Namun, pelaku usaha mikro ikan hias itu perlu mendapat pedampingan atau penyuluh,” ungkapnya.

Hadir dalam acara Refleksi Akhir Tahun DIHI dibilangan Alam Sutera, Tangerang Selatan yakni para pembudidaya Koral, Kerang maupun ikan hias yang tergabung dalam beberapa asosiasi.

 

Sumber berita:
http://wartajakarta.com/news-8470-dewan-ikan-hias-indonesia-dihi-gelar-refleksi-akhir-tahun-2016-.html