Oleh: Suseno Sukoyono (Ketua Umum Dewan Ikan Hias Indonesia)

Bulan Ramadhan selalu menjadi saat yang tepat bagi kita untuk sejenak merenung dan mempererat silaturahmi. Pada Jumat lalu, 27 Februari 2026, di tengah suasana berbuka puasa yang sederhana namun penuh kehangatan di fasilitas PT ATS, Tangerang Selatan, saya bersama rekan-rekan pengurus dan anggota DIHI duduk melingkar untuk berdiskusi jujur mengenai arah industri kita ke depan.

Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi sosial. Kita ingin melangkah lebih jauh: membawa industri yang bermula dari hobi ini menjadi industri yang benar-benar dikelola dengan landasan ilmu pengetahuan yang kuat (knowledge-based industry). Tujuan kita adalah agar pemerintah memberikan prioritas keberpihakan yang tinggi, tidak hanya pada komoditas pangan, tetapi juga kepada para pelaku ikan hias nasional.

Komitmen pada Inovasi dan Keberlanjutan

Dunia internasional saat ini menuntut lebih dari sekadar ikan dan koral yang cantik. Mereka ingin tahu apakah bisnis kita dikelola dengan rasa tanggung jawab terhadap alam. Itulah sebabnya, DIHI secara sadar mulai mengadopsi standar keberlanjutan yang dikenal dunia sebagai Blue Economy dan ESG (Environmental, Social, and Governance) agar produk kita tetap kompetitif di pasar global. Kita bersyukur dengan inovasi, teknologi, dan komitmen berkelanjutan pelaku usaha untuk memadukan pertumbuhan ekonomi dengan keberlangsungan sumber daya alam serta memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Dalam kunjungan kemarin, saya melihat langsung bagaimana penyediaan koral buatan (artificial reefs) menjadi langkah penting agar para penghobi dapat menikmati keindahan koral laut tanpa harus merusak alam. PT ATS telah menunjukkan dedikasi, komitmen, passion, serta keterampilan dalam menciptakan inovasi teknologi tepat guna buatan sendiri. Ini adalah bukti bahwa anak bangsa mampu menjawab tantangan konservasi dengan karya nyata.

Bagi saya dan rekan-rekan di DIHI, menjaga kelestarian alam bukanlah beban, melainkan investasi untuk anak cucu kita. Kita ingin memastikan usaha yang kita jalankan hari ini tidak hanya menyejahterakan para pelakunya, tetapi juga tetap menjaga rumah alami ikan-ikan kita di alam liar.

Menjaga Nama Baik dan Kejujuran Usaha

Satu hal yang menjadi perhatian mendalam dalam diskusi kemarin adalah masalah praktik “pinjam bendera” atau undername ekspor yang tidak bertanggung jawab. Kita harus mengakui secara terbuka bahwa adanya celah dalam aturan di Badan Karantina (Barantin) sering kali dimanfaatkan dengan cara yang kurang tepat, sehingga berpotensi merugikan rekan-rekan eksportir yang selama ini sudah tertib aturan.

Terkait hal ini, Sekretaris Jenderal DIHI menyampaikan inisiatif untuk segera berkoordinasi dengan Deputi Barantin. Prinsip kita sangat jelas dan adil: Kita berkewajiban melindungi pelaku usaha yang legal dan patuh, namun di sisi lain, kita juga harus berani menertibkan praktik yang merusak ekosistem industri kita.

Kebijakan yang Berdasarkan Fakta Lapangan

Satu pelajaran penting yang saya petik adalah bahwa aturan yang baik haruslah lahir dari kenyataan di lapangan. Saat ini, Sekretariat DIHI sedang merampungkan pengolahan data dari 52 responden pelaku usaha yang sudah masuk. Data ini akan kami susun menjadi sebuah masukan kebijakan (Policy Brief) yang objektif untuk disampaikan secara resmi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan serta Kepala Barantin.

Membangun Kemampuan dan Kebersamaan

Saya juga sangat bangga dengan kemajuan di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) DIHI yang kini telah memiliki 13 skema kompetensi. Untuk terus mempererat persaudaraan, kami telah merencanakan kunjungan sinergi ke PT Leopard, Bandung pada 10-11 Maret mendatang sebagai sarana belajar bersama di lapangan.

Penutup: Sebuah Harapan Bersama

Sahabat-sahabat DIHI yang saya hormati, jalan menuju Indonesia sebagai eksportir ikan hias nomor satu dunia nanti masih panjang. Namun, jika kita konsisten melangkah bersama dengan standar profesionalisme yang tinggi, saya optimis tujuan itu bisa kita capai dalam waktu dekat.

Sesuai dengan kesepakatan kita hari ini, DIHI akan mengisi acara Talkshow di Nusatic 2026 untuk memberikan dukungan semangat dan pemikiran kebijakan untuk mewujudkan Indonesia sebagai eksportir No. 1 Dunia. Hal ini menjadi krusial, terutama di tengah situasi ketegangan global (perang AS-Iran) yang berdampak pada peningkatan biaya logistik yang harus ditanggung oleh rekan-rekan eksportir.

Mari kita teruskan semangat ini: Sejahterakan pelakunya, lestarikan habitatnya.

Salam hangat,

Suseno Sukoyono

Views: 19

error: Content is protected !!