Sumber: brin.go.id

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Taslim Arifin, menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah terpadu dalam menjaga keberlanjutan terumbu karang melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE).

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan orasi ilmiah pada acara Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset BRIN, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (31/3).

Dalam paparannya, Taslim menjelaskan ekosistem terumbu karang dunia mengalami tekanan berat sejak pertengahan abad ke-20. Tutupan karang hidup secara global dilaporkan telah menurun hingga sekitar 50 persen, akibat interaksi kompleks antara perubahan iklim dan aktivitas manusia.

“Degradasi ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor, tetapi merupakan akumulasi dari tekanan antropogenik, variabilitas iklim global, serta perubahan kondisi oseanografi,” kata Pria kelahiran Kajuara-Bone, 1970 ini.

Menurutnya, selama ini terdapat kesenjangan mendasar dalam pengelolaan terumbu karang, mulai dari pendekatan yang masih sektoral dan parsial, keterbatasan integrasi antar-ekosistem, hingga belum adanya standar nasional yang komprehensif. Kondisi tersebut dinilai menghambat efektivitas kebijakan konservasi.

Merespons kesenjangan tersebut, Taslim mengembangkan konsep IDDE berbasis ekosistem yang mengintegrasikan berbagai parameter penting, seperti faktor geofisik, oseanografi, serta tekanan aktivitas manusia. Konsep ini bertujuan untuk mengukur kapasitas suatu wilayah dalam menopang kehidupan tanpa mengalami degradasi.

Ia menjelaskan, daya dukung ekologi tidak dapat dipahami sebagai batas statis semata, melainkan sebagai hasil interaksi dinamis antara sistem biofisik dan kebutuhan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus mampu menangkap dimensi spasial, temporal, dan ekologis secara bersamaan.

“Pendekatan terpadu memungkinkan pemetaan distribusi tekanan dan kapasitas wilayah secara lebih akurat, sekaligus memprediksi perubahan kondisi lingkungan dalam berbagai skenario,” kata Taslim.

Dalam risetnya, ditemukan bahwa penurunan kesehatan terumbu karang berkorelasi erat dengan meningkatnya suhu perairan, sedimentasi, serta konsentrasi nutrien seperti nitrat dan fosfat. Faktor-faktor tersebut umumnya berkaitan dengan aktivitas manusia di wilayah pesisir, termasuk urbanisasi dan praktik pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, fenomena iklim global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperparah tekanan terhadap ekosistem karang melalui peningkatan frekuensi kejadian ekstrem.

Taslim menekankan pendekatan spasial dalam IDDE menunjukkan adanya variasi daya dukung di setiap wilayah, sehingga pengelolaan tidak bisa disamaratakan. Setiap kawasan memerlukan strategi yang disesuaikan dengan karakteristik ekologis dan tekanan yang dihadapi.

Untuk memperkuat analisis, model sistem dinamik juga digunakan guna menyimulasikan berbagai skenario kebijakan dan memproyeksikan kondisi ekosistem di masa depan. Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan tidak hanya berbasis kondisi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan arah perubahan dan ketahanan ekosistem.

Penerapan IDDE telah dilakukan di sejumlah wilayah perairan Indonesia, seperti Teluk Saleh, Kepulauan Spermonde, Wakatobi, Teluk Jakarta, hingga wilayah Nusa Penida. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi data oseanografi dan tekanan antropogenik mampu memberikan gambaran kapasitas ekosistem secara lebih realistis.

“IDDE menjadi instrumen ilmiah yang menjembatani sains dan kebijakan, sekaligus mendukung pengelolaan terumbu karang yang adaptif dan berkelanjutan,” ujar Taslim yang sudah menelurkan 88 Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini.

Lebih lanjut, Taslim mengusulkan pembentukan kerangka nasional perlindungan terumbu karang berbasis daya dukung ekologi. Kerangka ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan lintas sektor, dengan mempertimbangkan keterhubungan ekologi, oseanografi, dan sosial-ekonomi antarwilayah.

Namun demikian, Ketua Kelompok Kegiatan Kesehatan dan Valuasi Ekosistem Pesisir di PRE BRIN ini mengakui implementasi IDDE masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan data, kesenjangan kapasitas sumber daya manusia, serta kompleksitas sistem sosial-ekologi.

Meski begitu, pengembangan indeks ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat tata kelola ruang laut berbasis ekosistem. IDDE juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam menetapkan batas pemanfaatan yang berkelanjutan, sekaligus menjaga integritas ekosistem laut di tengah tekanan perubahan global.

“Ke depan, integrasi sains, kebijakan, dan praktik lokal menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi habitat,” kata Taslim.

Ia menekankan pemahaman terhadap ekosistem pesisir harus bergeser dari perspektif statis menuju sistem yang dinamis, kompleks, dan penuh ketidakpastian, sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan.

Views: 0

error: Content is protected !!