OFI / DIHI Awards 2026: Membaca Ketekunan Pak Susanto Membangun Era Baru Industri Koral Global Lewat Rekayasa Habitat

Lanskap perdagangan komoditas maritim eksotis internasional tengah mengalami pergeseran regulasi yang sangat ketat. Di tengah pengetatan pengawasan Appendiks CITES dan tuntutan sertifikasi Environmental, Social, and Governance (ESG) global, industri tidak bisa lagi bergantung pada kuota pengambilan langsung dari alam liar (wild-caught).

Koral hidup dan ekosistem terumbu karang merupakan fondasi dari seluruh rantai pasok akuarium laut dunia. Mengandalkan ekstraksi koral alami tanpa batas bukan hanya memicu penolakan pabean internasional akibat isu degradasi lingkungan, melainkan juga mempercepat keruntuhan ekologis.

Di sinilah industri akuatik global menemukan cetak biru (blueprint) masa depannya lewat ketekunan seorang pria berlatar belakang insinyur teknik yang kini telah berusia lebih dari 70 tahun: Pak Susanto, pendiri PT Aneka Tirta Surya (ATS).

Sosoknya dikenal pendiam, bersahaja, namun memiliki ketekunan serta mentalitas pantang menyerah yang luar biasa. Melalui sentuhan rekayasa engineering dan konsistensi bertahun-tahun, beliau berhasil membawa Indonesia memimpin pasar dunia di bidang artificial coral reefs dan marikultur berkelanjutan.

Implementasi Learning Organization dan Substitusi Habitat Global

Di bawah arahan Pak Susanto, PT Aneka Tirta Surya (ATS) bertransformasi menjadi sebuah learning organization—sebuah ekosistem perusahaan yang terus belajar, menguji materi, dan mengevaluasi data kegagalan secara ilmiah demi menjinakkan tantangan propagasi laut dalam.

Bagi para pelaku usaha, kompetitor, dan pakar konservasi maritim dunia, hasil kerja keras dari PT ATS ini memberikan kepastian strategis yang masif:

  • Inovasi Marikultur Karang Alami Berskala Internasional: PT ATS berhasil melakukan propagasi koral hidup di lahan marikultur laut dalam (oceanic farms) dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Inovasi hulu ini menjawab langsung kebutuhan pasar global akan koral yang legal dan lestari.
  • Substitusi Kreatif Berdampak Finansial Tinggi: Sebagai insinyur, Pak Susanto berhasil merancang produk replika habitat akuatik (artificial coral reefs) berbentuk dekorasi buatan tangan (handmade) menggunakan bahan yang 100% non-toksik. Produk replika ini menjadi substitusi sempurna bagi pasar akuarium dunia yang ingin menikmati keindahan terumbu karang tanpa merusak ekosistem asli.

Hasil kombinasi marikultur ilmiah dan replika habitat ini berhasil menyerap pangsa pasar yang sangat signifikan di industri koral hias dan ikan hias global. Komunitas internasional tidak sekadar membeli produk dekorasi, melainkan membeli sebuah solusi ekologis yang kedap dari risiko hambatan non-tarif pabean global.

Makna Penganugerahan OFI / DIHI Awards 2026

Dedikasi sunyi yang dijalankan puluhan tahun oleh Pak Susanto ini mendapatkan apresiasi tertinggi di panggung pameran internasional terbesar tanah air.

Tepat pada tanggal 12 Juni 2026, dalam rangkaian pembukaan Nusatic 2026 di ICE BSD, Indonesia, digelar prosesi penganugerahan bergengsi Ornamental Fisheries Indonesia (OFI) Awards – DIHI Awards 2026.

Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI/WAPHI) menganugerahkan penghargaan kategori Inovasi Marikultur Karang Alami dan Pengembangan Produk Replika Habitat Akuatik kepada PT Aneka Tirta Surya (ATS).

Apresiasi internasional tersebut diserahkan langsung oleh tokoh lingkungan hidup dan filantropi senior nasional, Ir. Erna Witoelar (Pimpinan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan/Yayasan KEHATI), didampingi oleh Ketua Umum DIHI/WAPHI beserta Tim Juri.

Kehadiran para tokoh pelopor gerakan konservasi di atas panggung OFI Awards memberikan legitimasi ekologis yang mutlak: bahwa inovasi teknik buatan Pak Susanto adalah jembatan emas yang mendamaikan kepentingan profit komersial dengan perlindungan alam liar.

Logika Keseimbangan: Ketika Sains Teknik Memulihkan Modal Alam

Kiprah Pak Susanto bersama PT ATS menggarisbawahi satu pesan industri yang sangat kuat bagi masa depan tata niaga kelautan kita:

“Inovasi rekayasa teknologi tidak diciptakan untuk mengeksploitasi alam dengan lebih cepat, melainkan untuk membangun substitusi buatan yang mampu menghentikan tekanan terhadap populasi aslinya. Pertumbuhan ekonomi maritim sejati lahir dari organisasi yang terus belajar (learning organization) dalam mengonversi tantangan ekologis menjadi keunggulan komersial dunia.”

Langkah taktis penangkaran koral dan replika habitat ini berjalan selaras dengan rekomendasi strategis DIHI/WAPHI kepada Menteri Kelautan dan Perikanan RI untuk mendorong hilirisasi riset berbasis pemecahan masalah serta memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir ikan hias dan biota akuatik nomor satu di panggung global pada tahun 2030 berbasis Ekonomi Biru.

Bagaimana pandangan Anda melihat kontribusi teknologi artificial reefs karya anak bangsa dalam mengamankan pasar ekspor maritim global? Mari diskusikan di kolom komentar.

#OFIAwards2026 #DIHIAwards #BlueEconomy #ArtificialReefs #PTATS #MarikulturKoral #AkuakulturSustainable #Nusatic2026 #SustainableUtilization #RegulasiMaritim #InvestasiHijau #SDGsIndonesia #CITES

Tags :

waphi.id@gmail.com

https://dihi.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Kategori